Disunting oleh : Agung Ermanda
Dikisahkan dalam sejarah di jaman dahulu kala, di wilayah kawasan yang sangat luas membentang dari Timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan, yang sekarang kira-kira terletak diantara Tibet, Asia Tengah, Persia Dataran Udik dan Lembah Hilir Sungai Shindu. Afghanistan, Pakistan, Kashmir, India Barat Laut selalu terjadi pertikaian dan peperangan antar suku dan antar bangsa. Bangsa-bangsa yang sangat terkenal keperkasaannya antara lain Saka (Scythia), Pahlava (Parthia), Yueh-chi (China), Yavana (Yunani) dan Malava (India) sangat berambisi untuk berkuasa di jaman itu, menaklukkan lawan dan menguasai wilayah yang sangat luas. Dari abad ke abad diantara bangsa-bangsa Saka, Pahlawa, Yueh-chi, Yavana, dan Malava ini silih berganti berkuasa di daerah-daerah yang sangat luas di Asia Tengah, Persia, Lembah Sungai Shindu, Iran Selatan, Pegunungan Afghanistan, Dataran Tinggi Kashmir dan India bagian Utara dan Barat. Mereka memperebutkan daerah-daerah yang sangat subur untuk pengembaraan maupun pemukiman.
Suatu ketika di tahun-tahun 248 Sebelum Tarikh Masehi (STM), bangsa Pahlava unggul dalam peperangan melawan bangsa Yavana dan Saka sehingga mampu menguasai wilayah yang sangat luas.
Walaupun kalah dalam peperangan, bangsa Saka cepat menyesuaikan diri. Dalam perang boleh kalah, tetapi dalam kehidupan sehari-hari tetap riang dan ramah bergaul.
Sampai tahun 128 STM, bangsa Saka sudah terkenal mengembara di daerah wilayah yang sangat luas. Walaupun di medan perang dikalahkan oleh bangsa Pahlava, bangsa Saka sudah tersebar dimana-mana dan banyak diantaranya telah menjadi Kshatrapa (kerajaan–kerajaan kecil) yang berkuasa didaerah-daerah lembah atau pegunungan yang subur dan makmur.
Sebagai bangsa pengembara, suku bangsa Saka yang tidak berperang bergerak dari Asia Tengah ke Bactria terus ke Selatan sampai ke lembah sungai di Kafritan terus Badakshan. Selain berhadapan dengan bangsa Yueh-chi, bangsa Saka juga berhadapan dengan bangsa Pahlava yang juga mengembara dan menduduki Iran bagian Timur. Kalau di tahun 248 STM bangsa Saka takluk pada bangsa Pahlava, maka tahun-tahun 138-12 STM bangsa Pahlava mengakui keunggulan bangsa Saka. Namun demikian pertikaian dan peperangan diantara mereka tidak pernah berhenti, sehingga suku-suku bangsa Saka yang doyan mengembara ini sampai ke lembah dan daratan Sungai Shindu. Di beberapa daerah bangsa Saka menerima dan mengakui raja-raja bangsa Pahlava sebagai penguasa. Banyak pemuda-pemuda bangsa Saka masuk dalam dinas ketentaraan kerajaan Pahlava.
Pembauran tidak saja terjadi dikalangan rakyat biasa melainkan juga dikalangan para penguasa. Sejarah mencatat bahwa Wanana (Vonones), walaupun berkuasa sebagai Raja di Raja atas nama bangsa Pahlava, namun ia adalah pencerminan dari penyatuan kedua bangsa Saka dan Pahlava. Mata uang yang dikeluarkannya dengan gambaran sendiri membayangkan wajah campuran antara Pahlava dan Saka, seperti pula adik tirinya yang lahir dari perkawinan ayahnya dengan wanita Saka.
Wanana berhasil mengkikis habis kekuasaan bangsa Yunani yang begitu luas di daerah wilayah Iran. Atas jasa-jasanya mengenyahkan kekuasaan asing dan mempersatukan kedua bangsa (Saka dan Pahlava) dalam satu kawula negara, Wanana dinobatkan sebagai Maharaja di Raja. Dan pengukuhannya tercatat sebagai tahun Vikrama Samsat, tahun 58 STM.
Wanana diganti oleh Moga (disebut juga Moa atau Moasa) pada tahun 20 STM. Moga berkuasa sampai tahun 22 Masehi. Ia digantikan Aya, menantunya dari keturunan dinsti Kushana yang sudah berkuasa waktu itu di Iran bagian Timur tahun 5 STM
Seperti disebutkan dalam kitab Mahabhasya susunan Patanjali (187-151 STM), bangsa Saka sudah mengembara jauh-jauh ke lembah Sungai Shindu, seperti bangsa Yunani. Mahabhasya menyebutkan bangsa Saka “mudah mengintegrasikan diri dengan penduduk setempat”.
Seiring dengan bangsa Saka, bangsa Pahlawa juga disebur sebagai orang-orang tampan, santai dan suka bergembira ria, sampai Manu Samhita menamakan mereka : “Orang-orang kesatria Pahlava yang keliru jalan”. Walau “keliru jalan”, orang-orang Pahlava adalah juga mudah mengintegrasikan diri dengan penduduk setempat, sebagai halnya orang-orang Saka.
Ada tiga kelompok besar bangsa Saka (Scythia) ini yang menonjol, yaitu Saka Tigrakhauda, Saka Haumavarga, Saka Taradaraya.
Saka Tigrakhauda terkenal dengan tudungnya yang bertanduk satu disebut-sebut dalam naskah prasasti raja-raja Persia di jaman purbakala. Mereka hidup dan mengembara jauh-jauh ke pedalaman udik Suguda, atau disebut pula Sogdiana (sekarang Bactria).
Saka Humavarga adalah kelompok-kelompok pengembara yang kemudian mendiami daerah wilayah Sakasthana (sekarang Seistan). Mereka inilah merupakan kelompok yang hidup dan tinggal menetap di suatu daerah wilayah pemukiman tertentu dan mulai mengerjakan tanah sebagai sumber penghasilan hidup seharti-hari. Karenanya mereka disebut Hauma Varga : “warga atau bangsa yang mengerjakan huma sebagai sawah atau ladang”.
Saka Taradaraya adalah kelompok yang dinyatakan “hidup di seberang laut”, di padang-padang rumput di sekitar daerah wilayah sebelah Utara Laut Hitam (sekarang Russia).
Dinasti Kushana adalah keturunan darah bangsa Yueh-chi yang telah berdomisili di Turkestan. Pada tahun 165 STM mereka diusir oleh bangsa Hiung-nu, yang sebetulnya adalah tetangga yang bermukim dekat-dekat disitu. Dalam suatu peperangan yang tiba-tiba dengan Hiung-nu, pemimpin bangsa Yueh-chi terbunuh. Oleh bangsa Hiung-nu yang barbarius, tengkorak nya dipakai kedi tempat air minum. Janda pemimpin bangsa Yueh-chi ini tidak gentar, lalu memimpin bangsanya bergerak ke bagian utara negeri yang dinamakan Taklamakan dimana mereka berhadapan dengan bangsa Wu-sun di lembah sungai Ili. Peperangan antara bangsa Wu-sun dan Yueh-chi tidak bisa dihindarkan, dimana bangsa Wu-sun dapat ditaklukkan dengan terbunuhnya pemimpin mereka. Disini kelompok-kelopok Yueh-chi, dalam pengembaraan mereka untuk mencari tempat daerah permukima, bercerai berai. Sebagian kecil dari mereka bergerak ke arah Selatan, lalu tinggal di perbatasan negeri Tibet.
Namun sebagian besar dari mereka masih terus bergerak ke arah Barat dimana mereka berhadapan dengan bangsa suku Saka dekat Jaxartes (Syr Darya). Disini terjadi pertempuran hebat, dan bangsa Saka dapat ditaklukkan.
Wu-sun yang tadinya dikalahkan oleh Yueh-chi, dengan bantuan Hiung-nu sempat membalas dendam lalu bertempur melawan Yueh-chi. Bangsa Yueh-chi yang sempat menaklukkan Saka terpaksa angkat kaki bergerak lagi ke arah Barat dan Selatan hingga di lembah Oxus (Amu Darya). Dalam pengembaraannya ke arah Barat dan Selatan ini, Yueh-chi sempat mengalahkan suku-suku bangsa Saka. Kemudian Yueh-chi menetap di daerah wilayah Bactria.
Bangsa Saka yang dijumpai dimana-mana kini telah tidak begitu gemar berlawan. Mereka yang ditaklukkan oleh dinasti Kushana dari keturunan Yueh-chi sudah pandai bertani dan berniaga dan mereka menyerahkan perkara pemerintahan kepada pendatang-pendatang baru. Demikianlah dinasti Kushana membangun ibukota mereka di Sogdiana (sekarang Bokhara).
Di tahun 125 STM bangsa Yueh-chi beranak-pinak sangat pesat. Ada 5 kelompok dalam bangsa Yueh-chi ini. Salah satu diantaranya adalah dinasti Kushana (Kuei-shuang) ini. Lambat laun mereka tidak lagi merupakan bangsa nomad melainkan mulai berusaha mencari tempat permukiman untuk bisa tinggal menetap. Dinasti Kushana inilah sempat mempersatukan kelima kelompok bangsa Yueh-chi dengan menaklukkan mereka terlebih dahulu. Supremasi Kushana meliputi daerah yang amat luas, termasuk menaklukkan bangsa Pahlava yang menguasai daerah wilayah Kao-fu (Kabul) dan Kafiristan. Dinasti Kushana makin bertambah berkuasa dan mereka sangat kuat sehingga dengan mudah mengembangkan sayap kekuasaannya, sampai-sampai ke India (Punjab). Bangsa-bangsa yang mereka taklukkan (seperti Saka Pahlava, Yavana dan suku-suku bangsa setempat) mengakui kekuasaan mereka. Mayoritas bangsa Saka yang telah dijumpai dimana-mana merupakan bangsa yang cepat menyesuaikan diri, bersikap ramah dan pandai bergaul. Dalam pergaulan dan percampuran ini bangsa Yueh-chi yang telah disatukan oleh dinasti Kushana merasa “disambut” oleh situasi dan kondisi yang menggugah hati mereka untuk menghormati kebiasaan hidup dn kepercayaan rakyat setempat, yang sebetulnya mayoritas adalah bangsa Saka yang sudah menjadi satu dengan rakyat setempat. Hal ini sangat berkesan dalam lubuk hati keturunan dan kerabat dinasti Kushana.
Tercatat dalam sejarah tokoh-tokoh dinasti Kushana yang menonjol sebagai berikut :Kujula Kadphines I (Kuyula Papha)
Wema Kadphises II (Wima Kapha)
Kanishka I
Vasishka
Huvishka
Kanishka II
Vasudeva I
Kanishka III
Vasudeva II
![]() |
| Gambar 1 : Kaniskha Cascet |
Kujula Kadphises I, dalam mata uangnya yang terdapat di Hindu Kush, dilukiskan sebagai “pemimpin Kushana yang amat teguh kepada dharma” dari sumber-sumber gambaran mata uang yang diketemukan di Kabul, dimana Ia telah menaklukkan bangsa Yavana (Yunani) dan “mencabut akar kekuasaan bangsa Pahlava” di daerah wilayah Kabul dan Kandahar, ia diprasastikan : “maharajasa mahatasa kushana kuyula kaphasa” , yang artinya “Maharaja Kujula Kadphises dari dinasti Kushana”. Kujula sangat terkesan oleh rakyat jajahannya, yaitu mayoritas pembauran suku-suku bangsa dari ras Saka, Pahlava (Parthia), Yavana (Yunani) dan Malava (India) yang telah menetap hidup berkelompok-kelompok dengan ciri-ciri cara hidup mereka dan kepercayaan agama yang mereka peluk masing-masing. Untuk menyatakan rasa simpatinya, Kujula memeluk agama baru, yaitu agama Buddha yang dipeluk sebagian rakyat jajahannya.
Pada saat-saat dinasti Kushana menajak ke arah kekuasaannya yang meliputi wilayah yang sangat luas, Kujula telah menemukan kebiasaan rakyat mempergunakan tahun penanggalan Saka-Pahlava atau tahun penanggalan Malava-Saka. Kebiasaan ini telah berakar sangat dalam pada kebiasaan hidup masyarakat setempatdimana-mana diseluruh negeri. Hal ini tentu mendapat perhatian besar dari penguasa dinasti Kushana, terutama Kujula, yang merupakan tokoh paling bijaksana. Sebagai Maharaja, disamping berambisi untuk “menaklukkan dunia”, ia juga tidak segan-segan turun ke bawah memperhatikan dan mempelajari keadaan rakyat jajahannya, kehidupan mereka sehari-hari, dan kepercayaan agama mereka. Ini terbukti dari peninggalan peninggalan mata uang dinasti Kushana yang diketemukan dalam berbagai tempat di daerah wilayah yang sangat luas meliputi Persia, Asia Tengah, Tibet, Kashmir, dataran Sungai Sindhu sampai ke India.
![]() |
| Ayashaka Coin |
![]() |
| Hormuzd Coin |
![]() |
| Mahi Coin |
![]() |
| Kanishka 2 Coin |
![]() |
| Samatata Doin |
![]() |
| Vasudeva Coin |
Gambar 2 : Mata Uang
Mata uang yang banyak jumlahnya diketemukan dari dinasti Kushana ini menunjukkan bahwa keturunan mereka mempunyai aspirasi yang berbeda-beda dalam sikap hidup mereka mengenai kebiasaan hidup dan kepercayaan agama masyarakat yang mereka perintah dan kuasai, dimana mereka sendiri sangat berkepentingan. Dan tidak segan-segan untuk mengangkat aspirasi ini ke forum istana. Demikianlah dalam perjalanan sejarah dinasti Kushana yang sempat menguasai daerah wilayah yang begitu luas telah memberi warna yang menonjol dalam tradisi, budaya serta agama rakyat-rakyat dibawah kekuasaan mereka.
Wema Kadphises II, pengganti Kujula umpamanya, dijuluki “maharajasa rajadirajasa sarvalogaisvarasa wima kathkhisasa tratarasa” (prihal Wema Kadphises, Maharaja dari semua Raja, penguasa seluruh dunia, penyembah Mahesvara, Penyelamat Dunia). Berdasarkan bukti-bukti peninggalan mata uang dan prasasti yang telah diketemukan, Wema Kadphises II memeluk agama Hindu, dari sekte Siva (Mahesvara).
Dari dinasti Kushana, Kanishka –lah merupakan kaisar, maharaja diraja yang terbesar, lebih-lebih karena ia raja yang menguasai sebagian besar anak benua Asia, India di jaman purbakala dan sekitarnya seperti Madhyadesa, Uttarapatha, Aparanta dan lain-lainnya. Ia menggantikan Wema dengan titel kebesaran Devaputra atau Kushanasena
Gambar 3 : Raja Kanishka
Kanishka I, sebagai pemegang kekuasaan dinasti Kushana, merupakan Maharaja di Raja amat kuat, bukan saja dalam soal politik ketatanegaraan, melainkan jiga soal-soal budaya, ekonomi dan agama. Ia adalah pendiri dari suatu era yang menggunakan tradisi tahun penanggalan resmi Saka Kala sebagai pangkal tolak ia naik tahta yang diikuti oleh pengganti-penggantinya. Kanishka menobatkan era “Saka-Kala” sebagai tanggal dan tahun penanggalan resmi kerajaannya, yaitu Tilem Sasih ke-9 tiap tahunnya (seperti telah ditradisikan oleh bangsa Saka sejak tahun 58 STM) yang dimulai sejak hari pertama ia naik tahta mahkota kerajaan dinasti Kushana, yang jatuh tepat pada tahun 78 Masehi. Ini ia lakukan demi rasa hormatdan simpatinya kepada rakyat-rakyat taklukannya yang mayoritas adalah suku-suku bangsa Saka. Ia memerintah sampai tahun 102 Masehi.
Demikianlah abad dinasti Kanishka yang telah membuka jalan bagi kemajuan perkembangan kebudayaan dan agama sehingga India menjadi salah satu pusat agama dan peradaban manusia. Kanishka telah membuka pintu India selebar-lebarnya bagi negara-negara di Asia Tengah, Asia Timur Jauh dan Asia Tenggara termasuk Indonesia untuk perkembangan peradaban, kebudayaan dan agama manusia selanjutnya.








